Aku dan Kau
terpisahkan 13 tahun untuk bisa saling menatap
"Terlalu" kata mereka
Aku dan Kau
terpisahkan status untuk saling berpegangan tangan
"Skandal" kata mereka
Aku dan Kau
terpisahkan oleh Yang Maha untuk saling bersandingan
"Zinah" kata mereka
Aku berkata, "Mungkinkah?"
Kau berkata, "Salahkah?"
Aku dan Kau
masih merahasiakan tanda tanya besar yang belum terjawab oleh "Hati"
Mengenai Saya
- Artha Alhitya Dane
- My Name : dr. Jopie Artha Alhitya Dane .Spa Kita hanya miliki waktu yang terbatas. Ketika cahaya masih bersinar di atas sebelum kau ditelan gelap Dan aku kembali terlelap Kau hanya semu katanya, tidak pernah nyata Tapi hanya dirimu yang begitu dekat denganku selain Tuhan dan Bundaku.
Minggu, 05 Juni 2011
Aku Atheis yang berAgama
Jika aku Islam kenapa?
Aku Sholat 5 waktu dalam sehari
Aku mengaji dan mengkaji Kitab Al-Quran
Tentang keEsaannya
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Hindu?
Jika aku Kristen kenapa?
Aku selalu sembahyang ke Gereja
Menghayati titah Tuhan lewat Kitab Injil
Tentang Kasih Sayangnya
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Islam?
Jika aku Hindu kenapa?
Aku selalu mengikuti Nyepi dan Galungan,
Menelaah Kitab Tripitaka
Tentang Sutta-sutta dan Vagga-nya
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Budha?
Jika aku Budha kenapa?
Aku ikut serta merayakan Waisak
Aku menganalisa Kitab Veda
Tentang Sruti dan Smrti
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Kristen?
Bukankah Tuhan itu Satu?
Lalu, bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini Takdir?
Salahkah jika aku berAgama Satu, lebih dari Satu, atau Tidak berAgama?
Hidup ini Pilihan, benarkah?
Jika semua takut Neraka dan inginkan Surga
Murnikah Kebaikan mereka?
Lalu apa balasan orang yang Jahat?
Apakah Dosa dan karma?
Bukankah Tuhan Maha Pemaaf?
Untuk apa ada Neraka untuk tempat para pendosa?
Untuk apa ada Surga untuk yang kebaikannya tak Murni?
Tidak perduli sedekat apa Kau dan Tuhanmu,
Tapi, apakah orang berAgama pasti berAgama?
Aku bukan siapa-siapa
Aku bukan apa-apa
Aku menghuni Neraka dan Surgaku sendiri
Aku Atheis yang berAgama
18/05/11
RAP
*note 4 all : Jangan terlalu serius bacanya ah! saya bukan Ahli Agama, ini cuma imajinasi puisi saya saja :p
Jika ada yang kurang berkenan maaf yo mas, mbak, hehehehehe
Aku Sholat 5 waktu dalam sehari
Aku mengaji dan mengkaji Kitab Al-Quran
Tentang keEsaannya
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Hindu?
Jika aku Kristen kenapa?
Aku selalu sembahyang ke Gereja
Menghayati titah Tuhan lewat Kitab Injil
Tentang Kasih Sayangnya
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Islam?
Jika aku Hindu kenapa?
Aku selalu mengikuti Nyepi dan Galungan,
Menelaah Kitab Tripitaka
Tentang Sutta-sutta dan Vagga-nya
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Budha?
Jika aku Budha kenapa?
Aku ikut serta merayakan Waisak
Aku menganalisa Kitab Veda
Tentang Sruti dan Smrti
Tapi salahkah Aku, jika Aku dilahirkan di tubuh Ibu yang beragama Kristen?
Bukankah Tuhan itu Satu?
Lalu, bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini Takdir?
Salahkah jika aku berAgama Satu, lebih dari Satu, atau Tidak berAgama?
Hidup ini Pilihan, benarkah?
Jika semua takut Neraka dan inginkan Surga
Murnikah Kebaikan mereka?
Lalu apa balasan orang yang Jahat?
Apakah Dosa dan karma?
Bukankah Tuhan Maha Pemaaf?
Untuk apa ada Neraka untuk tempat para pendosa?
Untuk apa ada Surga untuk yang kebaikannya tak Murni?
Tidak perduli sedekat apa Kau dan Tuhanmu,
Tapi, apakah orang berAgama pasti berAgama?
Aku bukan siapa-siapa
Aku bukan apa-apa
Aku menghuni Neraka dan Surgaku sendiri
Aku Atheis yang berAgama
18/05/11
RAP
*note 4 all : Jangan terlalu serius bacanya ah! saya bukan Ahli Agama, ini cuma imajinasi puisi saya saja :p
Jika ada yang kurang berkenan maaf yo mas, mbak, hehehehehe
@ sepasang nisan kekasih @ ( Kulepas kau dari hatiku bag.13 )
... Sepasang nisan kekasih ...
Mentari mulai redup diambang senja merinai
isak masih bergumam memecah sunyi bibir malam
burung hantu menatap dengan mata pisaunya
dia terus mengusap sepasang nisan sang kekasih
air matanya menelaga megurai sajak sajak kenang patah
cerita yang pupus dihadang titik tanpa koma dan tanda tanya
kini dia terus bergumam pada tatapan yang tak sempurna
kekasih terlelap memagut cinta berkalang tanah merah
Jumat, 03 Juni 2011
MATAHARI KU MATA HATI KU MATA Bunda ku
Dari Mata kita dapat melihat indahnya dunia
Dari Mata pula kita melihat hati seseorang
Dari Mata pula kita dapat tertipu
Adalah Mata dapat mengungkap isi Hati
Adalah Mata dapat mewakili Isi Hati
Matahari ku Mata Hati ku Mata Bunda ku
Adalah mata kejujuran
Mata Indah seorang Bunda yang Ayu
Kelak akan kau lihat hiruk pikuknya jagat gumelar ini
Kelak akan kau lihat banyak tipu muslihat
Akan banyak kepalsuan juga kemunafikan
dari anak anakmu mungkin…
Dari Mata pula kita melihat hati seseorang
Dari Mata pula kita dapat tertipu
Adalah Mata dapat mengungkap isi Hati
Adalah Mata dapat mewakili Isi Hati
Matahari ku Mata Hati ku Mata Bunda ku
Adalah mata kejujuran
Mata Indah seorang Bunda yang Ayu
Kelak akan kau lihat hiruk pikuknya jagat gumelar ini
Kelak akan kau lihat banyak tipu muslihat
Akan banyak kepalsuan juga kemunafikan
dari anak anakmu mungkin…
Matahari ku Mata hati ku Mata Bundaku
Adalah mata kejujuran
Aku titip Jagat ini pada sorot mata tajammu
Rubahlah dunia dengan sinar matamu
Agar kelak dunia tunduk pada kejujuran mu.
Adalah mata kejujuran
Aku titip Jagat ini pada sorot mata tajammu
Rubahlah dunia dengan sinar matamu
Agar kelak dunia tunduk pada kejujuran mu.
Kamis, 02 Juni 2011
Kepulanganku dan ingatan
Hampir sampai, aku tak perlu risau, meski gelap terus menguntit di belakang.
gerimis kian melantunkan sunyi.
Satu belokan lagi, ada yang bergetar tibatiba, tapi bukan ponselku, sebab seingatku,
ia memilih mati kemarin, ketimbang gusar menunggu. jemu,katanya acuh.
(bukankah kapan itu hanya masalah waktu?)
Semestinya ingataningatan itu kutinggalkan tadi, di lampu merah, di halte bus, atau kafe yang sepi pengunjung atau kutitipkan pada pengemis yang mengetuk-ngetuk kaca jendela.
Hampir sampai, argo telah berhenti menghitung gelisahgelisah yang menjamur di dada
:kubayar tunai dengan air mata
gerimis kian melantunkan sunyi.
Satu belokan lagi, ada yang bergetar tibatiba, tapi bukan ponselku, sebab seingatku,
ia memilih mati kemarin, ketimbang gusar menunggu. jemu,katanya acuh.
(bukankah kapan itu hanya masalah waktu?)
Semestinya ingataningatan itu kutinggalkan tadi, di lampu merah, di halte bus, atau kafe yang sepi pengunjung atau kutitipkan pada pengemis yang mengetuk-ngetuk kaca jendela.
Hampir sampai, argo telah berhenti menghitung gelisahgelisah yang menjamur di dada
:kubayar tunai dengan air mata
@ diam di ruang waktu @
sekian lama jemariku membeku tak bersebab
tiada satu kalimatpun yang dapat menetas
aku terdiam di ruang waktu mencari jawab
kusibak semua tudung penutup baitbait itu
disana air mataku jatuh membentuk kenang
keakuanku ternyata telah menyamun semuanya
kemudiam kuambil sebilah belati tajam
biar kutikam diriku sampai menggelepar mati
kini aku sudah tiada
kini bukan aku lagi yang bisa
kini semua hanya Dia yang menata
aku hanya penunggu yang diam diruang waktu
Apa kabarmu ???
sekali waktu ingin menjengukmu
mungkin hingga kopi secangkir disesap habis
atau sereda hujan yang berebut tempat di beranda kering
barangkali ada obrolan yang tersisa
belum lagi sempat terselesaikan
barangkali juga ada rima detak jantung
yang memang tak pernah genap diisyaratkan
pada bangku kosong kafe
ada lekuk punggungmu yang tertinggal
kerling matamu sesekali terbias di pekat kopi
semilir angin dari kisikisi jendela
bersuara bisikmu tentang hujan di luar yang masih deras
serupa mantera yang membuatku tetap tinggal
sebentar lagi
mungkin hingga kopi secangkir disesap habis
atau sereda hujan yang berebut tempat di beranda kering
barangkali ada obrolan yang tersisa
belum lagi sempat terselesaikan
barangkali juga ada rima detak jantung
yang memang tak pernah genap diisyaratkan
pada bangku kosong kafe
ada lekuk punggungmu yang tertinggal
kerling matamu sesekali terbias di pekat kopi
semilir angin dari kisikisi jendela
bersuara bisikmu tentang hujan di luar yang masih deras
serupa mantera yang membuatku tetap tinggal
sebentar lagi
Langganan:
Postingan (Atom)