dengan segenap makna
dari hati kususun berlapis-lapis doa
menjadi tart kata-kata
kuhias dengan cinta persaudaraan
yang tak akan pernah sirna
di atasnya lentera jiwa merah menyala
beriring dengan segenap penghuni semesta
kami dengan cara-cara yang berbeda
ikut serta berdendang
menerbangkan riang
menyambut hari mengulang kelahiranmu
ke mayapada
mengatup tangan
dengan sepasang sayap ketulusan dan kasih sayang
kupanjatkan beribu permohonan ke langit sana
semoga segala jejakmu senantiasa rimbun bahagia
hatimu mampu laksana cahaya
selalu dewasa memaknai peristiwa dunia
yang sering datang menyerupai rajut jala
mengantar kenyataan yang kadang sulit dimengerti dengan logika
namun semua tak membuat nuranimu berhenti
karena Tuhan juga melengkapimu dengan semangat dan ketegaran
yang selalu pasang
tuk' menyatukan aksara dan melagukan puisi-puisi jiwa buat semesta
Mengenai Saya
- Artha Alhitya Dane
- My Name : dr. Jopie Artha Alhitya Dane .Spa Kita hanya miliki waktu yang terbatas. Ketika cahaya masih bersinar di atas sebelum kau ditelan gelap Dan aku kembali terlelap Kau hanya semu katanya, tidak pernah nyata Tapi hanya dirimu yang begitu dekat denganku selain Tuhan dan Bundaku.
Selasa, 07 Juni 2011
Setangkai Kembang Doa
dengan segenap makna
dari hati kususun berlapis-lapis doa
menjadi tart kata-kata
kuhias dengan cinta persaudaraan
yang tak akan pernah sirna
di atasnya lentera jiwa merah menyala
beriring dengan segenap penghuni semesta
kami dengan cara-cara yang berbeda
ikut serta berdendang
menerbangkan riang
menyambut hari mengulang kelahiranmu
ke mayapada
mengatup tangan
dengan sepasang sayap ketulusan dan kasih sayang
kupanjatkan beribu permohonan ke langit sana
semoga segala jejakmu senantiasa rimbun bahagia
hatimu mampu laksana cahaya
selalu dewasa memaknai peristiwa dunia
yang sering datang menyerupai rajut jala
mengantar kenyataan yang kadang sulit dimengerti dengan logika
namun semua tak membuat nuranimu berhenti
karena Tuhan juga melengkapimu dengan semangat dan ketegaran
yang selalu pasang
tuk' menyatukan aksara dan melagukan puisi-puisi jiwa buat semesta
dari hati kususun berlapis-lapis doa
menjadi tart kata-kata
kuhias dengan cinta persaudaraan
yang tak akan pernah sirna
di atasnya lentera jiwa merah menyala
beriring dengan segenap penghuni semesta
kami dengan cara-cara yang berbeda
ikut serta berdendang
menerbangkan riang
menyambut hari mengulang kelahiranmu
ke mayapada
mengatup tangan
dengan sepasang sayap ketulusan dan kasih sayang
kupanjatkan beribu permohonan ke langit sana
semoga segala jejakmu senantiasa rimbun bahagia
hatimu mampu laksana cahaya
selalu dewasa memaknai peristiwa dunia
yang sering datang menyerupai rajut jala
mengantar kenyataan yang kadang sulit dimengerti dengan logika
namun semua tak membuat nuranimu berhenti
karena Tuhan juga melengkapimu dengan semangat dan ketegaran
yang selalu pasang
tuk' menyatukan aksara dan melagukan puisi-puisi jiwa buat semesta
Senin, 06 Juni 2011
Surat Kepada Malam
Rindu menggelepar di hati
Irama malam bermain di lempenglempeng memori
Surga ada di setiap hati, dia hadir saat ketenangan diri menguasai. Altar jiwa ini selalu ingin bersuci kala pikiran-pikiran dangkal meracuni. Kau pernah berkali-kali membenturkan kepalaku di dinding jiwa yang keras bagai batu hingga remuk seperti debu. Oh duhai malam, kau sungguh ketenangan yang dicari setiap insan untuk bersujud di sepertiga malam milik Tuhan.
Gugus rindu bertaut
Malam menyisakan kenangan
Pada sajadah yang tersentuh sujud
Di bawah pohon terlarang
Simaklah riwayat Adam menaut kasih dalam serangkai cerita cinta pada hakekat kesetian di bawah pohon terlarang yang rela melepas pembalut badan akan sebuah rasa yang takut kehilangan telah mengajarkan pada kita api asmara mampu mengubah segalanya secepat kedipan mata diujung hembusan angin
BUIH-BUIH TAK BERNAMA
ceritakan padaku,Cinta
tentang tabir senja hari ini
tak berwarna jingga,
dengan kabut tebal membunuh mentari
pudjangga kata melukis buih-buih bertinta kematian
memaknai jiwa malaikat dunia bersayap putih,
bersandar pada dahan kering berbatu
entahlah,siapa nabi tuhan hari ini,
mungkin buih-buih tak bernama itu,
You Are
I waiting you under the rain, hope you come with the rainbow
When the sun close his eyes, I will give sunset in your arms
When the moon singing in the darkness, I will dance in your dream
when the sunrise come in our window, I will kiss you to give a trully light
I can do everything to make you love me more than anything
Because you are my everything
daun gugur, jendela biru dan aku
*seperti alunan detak jantungku, tak bertahan melawan waktu, dan semua keindahan yang memudar atau cinta yang telah hilang. Tak ada yang abadi, tak ada yang abadi, biarkan aku bernapas sejenak sebelum hilang* - Peterpan -
Untuk pertama kalinya selama bertahun tahun, aku ingin datang ke rumah itu malam ini, walaupun saat ini,meskipun aku gelisah, aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan melihatnya, aku harus meninggalkan demi kebaikan.
Aku berjanji untuk melihat rumah itu terakhir kalinya pada malam ini di bulan Desember yang dingin. Aku berjalan melewati jalan jalan setapak yang kosong satu demi satu, aku melihat jendela kamarmu yang dicat berwarna biru masih seperti dulu..
Daun daun berguguran laksana salju yang turun di malam ini, daun daun yang kering menguning gugur satu persatu ,kenapa harus menguning..??? kenapa tidak membiru…?? Bukankah akan lebih indah jika birunya daun di sinari kuningnya lampu neon...?? seperti yang ada di film India yang kerap kita tonton bersama di kamarmu..?? cukup indah diterpa lampu neon jalanan, meski tak seindah turunnya salju di Negeri Sakura yang pernah ku janjikan kepadamu…
Kuikat lebih kencang tali pengikat jas hangat ku yang mulai lusuh, tak bisa sembunyikan tubuhku yang kian mengecil, sesekali aku terbatuk batuk dan memecah keheningan yang menyaman, syukurlah tak ada seorangpun yang ingin menghabiskan waktunya di luaran, atau sekedar memandang bulan yg temaran dari teras rumahnya, Mereka lebih bijak memilih menghangatkan diri di dalam ruangan, bercanda dengan keluarga atau menghabiskan waktunya di depan televisi dengan segelas minuman penghangat….
Biarlah pikirku…
Sesekali aku melompat melewati kubangan yang menghias jalan rumahmu, aku tersenyum, masih mampu aku melakukannya. Aku masih ingat ketika kita dulu berteduh di kios ujung itu, ketika hujan datang dan kau ingin menikmati semangku bakso buatan tukang bakso langgananmu yang di ujung jalan, kita cukup berlari lari kecil dari pinggir pinggir ruko sepanjang rumahmu,hingga tiba di ujung jalan dan tak ada apa apa untuk melindungi tubuh kita dari hujan, kita berlomba untuk tiba terlebih dahulu, memainkan mainan yang konyol pada pipet bekas minuman kita, siapa yang kalah, dia yang harus membayar dengan recehan recehan uang hasil kerja keras kita, dan selalu berakhir dengan kebahagiaan yang tak terbagikan di kamar itu, yang kita beri warna biru…
Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri menatap rumahmu, yang aku ingat hanya sebaris senyummu pada bibir tipis yang kau miliki, pada mata yang tajam menatap, pada hati yang tak bisa kubagi….
Mungkin hanya ini yang membuat aku ingin melihat mu sekali lagi, sambil menyusuri jalanan mencari ruang kosong agar aku bebas menatap jendela kamarmu, tersembunyi dari cahaya neon yang semakin letih menyinari dedaunan yang terus berguguran dihembus angin, menambah dingin di bulan ini…
Masih dapat ku rasakan getaran dingin yang menjalar disekujur tubuhku saat dokter pertama kali mendiagnosis penyakit sialan ini beberapa tahun yang lalu, dan kemudian kurasakan seperti sebilah pisau mengiris iris hatiku, menumpahkan harapan ku diatas ubin yang tak lagi bersih….
Sekelebat lampu mobil menyadarkan aku kembali, semakin terang dan berhenti di depan rumahmu. Jantungku berdegup kencang, suaraku keluh, aku tak bisa berteriak, hanya mataku nanar memandang, aku lihat dirimu, aku rasakan aroma kesukaanmu, punggungmu, seluruh bagian belakang tubuhmu, aku tahu, kau masih seperti yang dulu, membelakangiku, hanya kali ini tak perduli ….
Ku coba lambaikan tanganku padamu,namun jantungku berhenti berdegup, lidahku semakin keluh, aku terjatuh, gelap dan terasa tenang…..
Pagi di bulan Desember,
“ terbujur kaku seorang tunawisma, mati kedinginan, tak ada yang mengenalin ”
Kau baca berita itu di surat kabar harianmu,kau lipat rapi dan kau letakkan di sudut jendela kamarmu yang berwarna biru , masih seperti yang dulu, sinar matahari tak malu malu masuk menyinari kamarmu hari ini…
Kau begitu gagah, dengan dasi keemasan menghias di tubuhmu, kau melangkah turun, tersenyum, mengecup kening istrimu dan menikmati secangkir kopi hangat beraroma lembut… “ hmmm.. benar benar pagi yang indah sayang…!! ” kau ucapkan kata itu ke pada nya…..
Langganan:
Postingan (Atom)