Mengenai Saya

Foto saya
My Name : dr. Jopie Artha Alhitya Dane .Spa Kita hanya miliki waktu yang terbatas. Ketika cahaya masih bersinar di atas sebelum kau ditelan gelap Dan aku kembali terlelap Kau hanya semu katanya, tidak pernah nyata Tapi hanya dirimu yang begitu dekat denganku selain Tuhan dan Bundaku.

Minggu, 11 September 2011

Dari sinar matamu

Dari sinar matamu tidak ada pancaran melukakan
mengusung airmata haru menunggu gugurnya kemboja
kita memangil roh cinta mengajaknya berjalan membiarkan
utus salam yang kelam dan meniupkan renai gerimis agar
tak sembunyi lena dalam lelah malam
meski ada malam meleraikan kelopak mawar
menghimpunkan debu di jendela kaca suram
menyilau kasmaran

Dari sinar matamu
madarasah
sempurna


Senin, 22 Agustus 2011

DIBERANDA MAYA KITA BERSUA



 awan elektron cinta bagai nimbus
merata berselingkung di atap orbit cartesius
memancing-mancing hasrat loncatkan cahaya difus
kilat menyambar-nyambar
munculkan warna kerinduan tergambar dan
di kuadran tiga bumi terhampar

lautan lebaar
tempat  kita berlayar
arungi rentak kehidupan yang liar
tuk temukan makna yang masih samar
samar

kilat cahaya elektron cinta
membekap badai asmara
jinakkan seluruh getar didada
biarlah rindu membelai jiwa

kita bersahabat saja

: di beranda maya kita bersua

SENANDUNG CINTA


Aku bersenandung
bersama nada cinta.

Dalam gelimang bahagia
mekar berseri di restui
secerah taman surgawi.

Meraih hati kekasih
lalu, cinta mengembara
ketempattempat terjauh
menikmati kembara cinta hati.

Menjelajahi setiap undakan rindu
o, alangkah indah mewujudkan mahligai
mereguk kasih dalam asmara tanpa jeda
sebagai Adam dan Hawa di surga firdaus
mendekap Hikmah dalam kesucian senandung cinta.

TUHAN , BANTU AKU '


Bulan Ramadhan, seperti biasanya, entah mengapa pasien-pasien ke praktek rada sepi. Dr. Niken iseng-iseng membuka tombol Handphone nya, tujuannya tentu tak lain buat menghubungi Vina gadis semata wayangnya yang kuliah Kedokteran di salah satu Universitas Swasta Jakarta. ' Wah, ada inbox masuk nich !', sejak pagi tadi memang dia lupa membuka Hp karena kesibukannya sebagai dokter di Zaal Anak. Kebetulan bulan ini dia sedang mendapat tugas di Ruang Observasi dengan dua kasus Encephalitis dan satu kasus Kejang demam komplek, masuk juga dua kasus baru dengan DBD dan Gastro Enteritis Akut Dehidrasi Berat. Belum lagi mesti visite di Kelas II dan membuat Resume lima pasien yang pulang hari ini.
Dr.Niken segera membuka inbox yang masuk : ' Dr. NIken, pulang nanti tolong mampir sebentar ke Poli Umum ya, masih ada THR sedikit....salam. '. Inbox dari dr. Prasanto , seorang yang pernah mengisi hatinya dengan ' cinta platonik ', ketika dia masih bertugas di Poli Umum sebelum di mutasi ke Zaal Anak. Masih hangat dalam ingatannya, betapa wajah duka Pras melepas nya ketika itu. Tak ada pelukan, cuma pandangan yang 'cukup dimengerti' oleh mereka berdua saja. Poli Umum dan Zaal Anak memang masih satu Rumah Sakit, namun kesibukan pastilah akan jadi pemisah mereka.
' Maaf dr. Pras, saya baru membuka Hp sore ini. Besok dr.Pras weekend seperti biasa atau ada di Polli ?'
' Saya ada di Poli.....salam.'. kata 'Salam' ciri khas SMS Pras seringkali menggetarkan rasa dr.Niken , seakan gadis remaja yang baru mengenal cinta.
Mutasi dr.Niken ke Zaal Anak mungkin ada hikmahnya juga, sebab ternyata kesibukan bisa membuatnya 'melupakan' Pras, rasa yang rancu bagi wanita seumurnya , apalagi bagi Pras pria tampan hampir pensiun yang beristri dua itu. Cinlok, telah membuat mereka lupa akan statusnya, apalagi sejak 8 tahun belakangan ini, sejak mereka bersama-sama tugas di Poli Umum. Selama bulan Ramadhan ini Niken kian mendekatkan diri pada Allah dengan beribadah semaksimal mungkin, dia juga sengaja tak pernah lagi mampir ke Poli Umum guna menghindari Pras. Tapi SMS Pras kali ini mengharuskannya menemui Pras kembali. ' Tuhan, bantu aku menghadapi Pras, jangan sampai tergoda lagi hingga batal puasaku ya Allah', bisiknya dalam hati.
Semalam, sempat terlintas dalam pikiran dr.Niken , mereka-reka pakaian apa dan warna apa yang akan dikenakannya guna menghadap Pras hari ini, namun pikiran itu segera dibuangnya jauh-jauh, 'Aku mau bekerja, bukan mau kencan !'. Dikuatkan hatinya. Jam 08.00 Wib, usai absen di 'mesin cap jempol', dr. Niken melangkah pasti menuju Poli Umum. Begitu membuka pintu tampak dr. Yudha duduk di bekas tempat duduknya.
" Eh, met pagi dr. Niken, ada apa ?", tanyanya.
" Pagi....., nggak koq, aku ada perlu sama Boss ".
" Oh, dr. Pras ? ada tuch !", katanya sambil menunjuk ruang sebelah.
Dr. Niken mengambil tempat duduk tepat di depan dr. Yudha, sejenak mereka terlibat pembicaraan tentang isu-isu seputar Rumah Sakit dan IDI, maklum dr.Yudha juga menjabat sebagai Ketua IDI.
Selagi asyik mereka berbicara, dr.Niken mendengar langkah-langkah kaki yang dikenalnya.
" Eh, dr. Niken, met pagi...., udah lama ?", sapanya seperti biasa.
" Pagiiii, baru koq....", dr. Niken menoleh.
" Ntar ya, aku ambil....", dr. Pras segera berbalik.
Begitu dr. Pras menghilang, kebetulan ada pasien yang mau berobat ke dr. Yudha, dr. Nikenpun menyingkir dari kursinya pindah ke ruang sebelah. Tampak dr. Pras sedang menerima telp.dari Hpnya.
" Nich dr.Niken , THR nya....."
" Tq, ya..., tapi kenapa aku masih dapet , kan udah mutasi ? "
" Ya , kan mutasinya baru dua bulan ini, jadi masih ada jatah dong "
Diterimanya amplop itu dan sekilas ditatapnya dr.Pras, agak berantakan kali ini penampilannya.
" Udah dulu ya, ada urusan penting nich, aku tinggal ya....", dan dr.Pras pun berlalu dari hadapannya.
Sekilas hadir rasa kecewa di hati dr.Niken. Cuma begitu saja pertemuannya dengan dr.Pras, mana binar-binar rindu itu ?. Dr. Nikenpun pamit pada dr.Yudha , bergegas menuju Zaal Anak. Biarlah, ada hikmahnya ini semua. Ternyata Tuhan telah mengabulkan do'anya, melepaskan dirinya dari godaan dr.Pras pada pertengahan Ramadhan ini.

Sabtu, 20 Agustus 2011

DAHULU

Aku masih tergeletak di atas kasur ini
Ditemani berserakan foto-foto usang merekam memori

Disana ada kau
Kau yang menjadi ratu dari segala mimpi
Memabukkanku hingga ku tak tahan lagi
Lalu ciumanmu membangunkanku dari imaji
Dan kaupun lenyap seketika seperti sebuah ilusi

Disitu ada dia
Dia yang menjadi bayangan sejati
Mengikuti kemanapun ku pergi
Tak bosan dia mengkopi diri sendiri
Menjadi cerminku diatas segala pribadi

Lalu ada mereka
Yang angkuh membanggakan nilai tak terpatri
Mereka yang tak bosan membuat janji-janji
Tapi yang ada hanya kebohongan yang terjadi
Dan merekapun tak pernah malu berjanji lagi

Dan ada pula aku
Aku yang dicampakkan dan merasakan sakit hati
Aku yang ditinggalkan dan pernah dikhianati
Aku yang dilupakan dan telah terganti
Aku yang kesepian dan selalu sendiri

Itu DAHULU bukan?
Merasa semua telah mati tapi aku yang terbunuh mimpi

R I S A U




Risau membadai di hati
Sepi apakah pilihan?
Cengkrama labirin adalah jalan padamu selalu.

Masalahnya ada pada diri sebenarnya
Aku-kau tak mau kalah.

Lalu, putuskan keputusan!
Kepastian atau kepasrahan
Sebuah keyakinan yang kita pinta pada Tuhan.

Jangan patahkan daun pintu, kemudian berlari jauh
Sebab, aku pilih peduli di sini!

Minggu, 14 Agustus 2011

Pagi Terakhirmu

Surya ditelan raksasa mega
Jejak megapmegap di sapu angin barat
Melarat angan
Berkarat ingin

Dari kekeliruan panjang yang pernah berulang kau serukan,
dikembalikan padamu pekat paling lekat. Kau lekas ikhlaskan
ini, dalam tubir jiwa, dalam tabir dunia.

O, di mana sesungguhnya damai ? Ketika aksara hanya
maknakan perpisahan. Airmata jelma kerinduan. Tak
pupus dalam erat pelukan.

O, di mana sebenarnya sepi ? Kala puisi hanya
wartakan kepergian. Peluh gagal jadi suluh. Terjegal
dalam debar keraguan.

Tetap di tempatmu. Jangan beranjak. Penantian adalah
takdir terbaik. Tulislah kehidupan di telapak tangamu.
Bacalah kematian di ujung jemarimu.

Langit makin pekat
Gerimis jatuh kian tipis
Berkaca hati
Membias nanti