Mengenai Saya

Foto saya
My Name : dr. Jopie Artha Alhitya Dane .Spa Kita hanya miliki waktu yang terbatas. Ketika cahaya masih bersinar di atas sebelum kau ditelan gelap Dan aku kembali terlelap Kau hanya semu katanya, tidak pernah nyata Tapi hanya dirimu yang begitu dekat denganku selain Tuhan dan Bundaku.

Minggu, 18 September 2011

JIKA IA SEBUAH CINTA


jika ia sebuah cinta.....
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak buta..
namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak menyiksa..
namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak memaksa..
namun senantiasa berusaha..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak cantik..
namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak datang dengan kata-kata..
namun senantiasa menghampiri dengan
hati..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak terucap dengan kata..
namun senantiasa hadir dengan sinar
mata..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba
memenangi..

jika ia sebuah cinta.....
ia mungkin tidak suci..
namun senantiasa tulus..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan...

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir dengan kekayaan dan
kebendaan...
namun hadir karena pengorbanan dan
kesetiaan...

Eksperimen Narasi - Sebab Aku Jatuh Cinta


Saya sedang bereksperimen mencoba berbagai jenis narasi. Sepertinya, percobaan pertama ini lumayan gagal. Ah, sudahlah. Saya sendiri gak ngerti dengan apa yang saya tulis -_-a

-----------------------------------------------------------------------------------

“Tolong aku.”

Begitulah kamu selalu datang kepadaku. Selalu dengan ucapan yang sama. Seperti patung bidadara yang menengadahkan tangan di sebuah mall yang kutemui dari bilik maya di kamarku. Oh, jangan salah paham. Bukan pengemis, tentunya. Apakah kamu tidak dengar kalau aku menyebutmu “bidadara”?

Seperti juga kali ini, kamu datang kepadaku beriringan sepasang permata hitam penuh permohonan. Coba bilang, bagaimana aku bisa menolaknya? Kamu membuat dirimu sendiri terjepit di antara koridor sempit menuju ruang terdalamku. Saat kukeluarkan kamu dari sana, lengan itu seketika menjangkau sudut ibaku. Mengapa kamu begitu mudahnya membuatku jatuh?

Sorot mata hitam itu seolah memintaku tak menyalahkanmu. Tapi, tentu itu hanya di pikiranku. Khayalku yang memaksa kedua belah otakku membersitkan harap itu. Agar kamu menjelma Superman, yang bisa menembus isi kepalaku. Agar tak perlu kukeluarkan tanya itu.

Coba bilang, bagaimana aku bisa tidak menyalahkanmu? Seperti gerimis hangat di malam-malam dingin menjelang Tahun Baru tahun lalu, mengawaniku sampai datang pagi. Di sisi lain, sebuah gedoran beriring di perutku. Tak nyaman. Kamu tahu betul aku membenci hari-hari di mana aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan malam itu, aku benci sekali saat tidak tahu penyebab rasa aneh di perutku. Itu gara-gara kamu, kalau kamu mau tahu.

Angin gemerisik meniupkan serpihan-serpihan mungil dandelion di ujung sana. Pelan-pelan hilang dari perspektif semuku. Mungkin itulah yang terjadi dengan “sesuatu” di dalam diriku. Ada yang hilang, mungkin tercuri. Aku masih tidak tahu apa. Kamu malah tidak mau tahu. Kalau begini, lama-lama aku bisa membencimu. Tapi tak kulakukan. Bukan tak ingin, melainkan tak bisa. Tahukah betapa menyebalkannya dirimu di saat-saat seperti itu?

Kamu hanya melompat-lompat saja, oleh sebab tangga tinggi itu. Sekalinya berhenti, kamu berbalik dengan kedua sudut bibirmu terangkat naik. Uluran tanganmu tak pernah kusambut. Dengan kaki kecilku ini, apakah kamu berpikir aku tak sanggup mendaki? Pandangan kosongmu saat aku melewatimu hanya membuatku semakin tenggelam. Gedoran di perutku makin menjadi. Jangan beri aku tatapan itu.

Angin gemerisik sekali lagi. Membawa pintaku entah ke mana, tak sampai padamu. Mungkin angin mulai bosan dengan racauanku kepadamu dalam diam. Mungkin angin merindukan hembusan udara bersama suara dari mulutku. Ah, bagaimana aku bisa menyampaikannya?

Segores, dua gores, hingga penuh selembar dengan operasi-operasi aritmatik di dalamnya. Kuulurkan tanpa suara. Kamu terima pula tanpa suara. Tak peduli seberisik apa manusia-manusia berjas putih laboratorium itu, bagiku—mungkin juga bagimu—hanya senyap yang ada. Canggung itu pecah, setelah sekian lama. Ucapanmu menembusku, membuatku kelu.

“Aku akan berhenti minta tolong, kalau itu mengganggumu.”

Apakah kamu tidak mengerti? Aku memang terganggu. Sangat terganggu. Sejak kemarin dulu, kemarin dulunya lagi, lalu kemarin dulunya lagi. Tapi, bukan oleh pintamu. Apakah kamu tak lihat senyum yang mengawani uluran tanganku kepadamu? Bukan karena itu aku diam, atau menghindar. Sekali lagi, kuharap kamu Superman. Lihatlah jauh ke dalam benakku, agar tak perlu aku angkat bicara. Aku tahu kamu tahu kesulitan komunikasiku.

Apa guna matahari ada? Apa guna bulan bintang melentera kelam malam? Semuanya toh lenyap oleh lubang hitam karenamu. Hanya sisa kegelapan itu sendiri. Juga sunyi.

Kamu sibak rambut hitamku, menepuknya pelan. Tahukah selebar apa kelopakku membelalak? Ah, tentu kamu tahu. Bukankah sepasang permata hitammu menembusku langsung?

“Aku takkan minta tolong lagi. Ini yang terakhir. Kamu mau dengar?”

Terakhir? Sebersit jenak yang menjelma teror buatku, bahkan angin tak berani berhembus. Aku diam. Kamu diam. Tak bisakah kamu usir senyap ini? Jangan buat atmosfer tegang ini bertahan.

“Jangan berhenti membantuku. Jangan berhenti peduli padaku. Bahkan, jangan berhenti untuk tetap di sampingku. Meski saling diam, tidak apa-apa. Jangan melihat orang lain. Jangan pergi, dan jangan biarkan aku pergi.”

Bukankah semua itu terlalu banyak untuk kamu sebut “terakhir”? Apa yang ingin coba kamu sampaikan? Semua itu bukanlah kata-kata yang sewajarnya terucap di antara sahabat. Aku tahu kamu tahu.

Gedoran di perutku tak hanya makin menjadi. Ia sudah menggila sekarang. Bahkan mulai merambah ke segumpal daging tak jauh di atasnya. Cepat, menghentak, tapi berirama. Irama yang menempatkanku antara nyaman dan tidak, senang dan tidak, gelisah dan tidak. Serba dilema. Mengapa kamu setega ini kepadaku?

Ah, lubang hitam itu sirna. Entah bagaimana, bukankah secara ilmiah itu sulit terjadi? Bahkan mungkin mustahil. Sekarang aku justru terjebak dalam inti matahari, lebur di dalamnya. Entah bagaimana bisa melewati tenggat titik didihku.

Sudahlah, angin telah berbaik hati kepadaku. Ia tak lagi dingin dan tak berperasaan. Sebab ia mengabarkan pada langit agar memendam beban kepada awan. Tak ayal, titik-titik air langit itu jatuh.

Kamu tak coba menarikku meneduh. Kamu tahu aku suka gerimis, dan justru ikut menikmatinya bersamaku. Terima kasih.

Kamu memang tak bilang. Kamu memang masih tetap bisu soal makna permintaan terakhirmu itu. Tapi tak apa. Sebab rasaku cukup. Mungkin.

Sekali lagi, terima kasih.

Selasa, 13 September 2011

perempuan itu

hujan reda sudah saat melewati senja, dedaunan basah menyisakan kebeningan pada helainya, sebening hening wajahmu saat kuhayati ketika engkau tertidur, persis di sebelah lengan rengkuhku, dekat dengan hatiku

malam menapak waktu dalam kesenyapan purba, deru nafasmu terus memburu dalam hamparan tanpa warna mengerjapkan cinta diatas tubuhmu, di setiap lekuknya seperti telaga bening tak bermuara, dan pada helaihelai rambutmu seperti rerimbunan dedaunan bambu, tempat cahaya matahari selalu singgah bermain dengan desiran serenade laksana gemerisik dengus lenguh nafasmu, menelisik menembus kabut dan silih bergantinya musim, menaburkan bebungaan yang semerbaknya seharum jenjang lehermu

demikianlah, duhai perempuan, dermaga tempat kulabuhkan seluruh kidung dari kicauan camarcamar yang menerbangkan setiap harap dan kecemasan pada pantai  waktu, saat kehidupan kita larungkan, sampai kemudian aku ikhlaskan diriku rebah sepenuhpenuhnya pada setiap lekuk tubuhmu sampai malam terakhir itu menjelang.

Minggu, 11 September 2011

Kulepas Kau dari hatiku ( Bag 18)


kau hanyutkan jeraya rasa di benua rindu tak bertepi.kau hanyutkan bait-bait ingatan sampai tiada lagi kusentuh.mengelus bibir mengelus mimpi .Di danau langit cintaku berhujung.
Sayang,peliharalah untukku.

Kulepas Kau dari hatiku ( Bag 18)


kau hanyutkan jeraya rasa di benua rindu tak bertepi.kau hanyutkan bait-bait ingatan sampai tiada lagi kusentuh.mengelus bibir mengelus mimpi .Di danau langit cintaku berhujung.
Sayang,peliharalah untukku.

Dari sinar matamu

Dari sinar matamu tidak ada pancaran melukakan
mengusung airmata haru menunggu gugurnya kemboja
kita memangil roh cinta mengajaknya berjalan membiarkan
utus salam yang kelam dan meniupkan renai gerimis agar
tak sembunyi lena dalam lelah malam
meski ada malam meleraikan kelopak mawar
menghimpunkan debu di jendela kaca suram
menyilau kasmaran

Dari sinar matamu
madarasah
sempurna