“Ceritakanlah pada kami tentang kekasihmu.”
Sore
itu sang gadis dan sahabat-sahabatnya sedang menunggu langit. Mereka
menunggu saat-saat selendang merah keemasan terhampar di atas mereka,
semburat senja. Saat-saat yang sangat dinanti-nanti oleh sahabat-sahabat
sang gadis, saat yang istimewa bagi mereka.
“Lagi?” Sang gadis bertanya.
“Ya. Lagi dan lagi,” sahabatnya bersahutan, bermanja, “kami sungguh tak ingin berhenti mendengarnya.”
Sang
gadis menghela nafas, dibuat-buat. Ia lalu tersenyum. Ia pun
sesungguhnya tak ingin berhenti berkisah tentang kekasihnya. Kekasihnya,
dan cinta itu sungguhlah dahsyat. Ia merebahkan tubuhnya di dekat
sahabat-sahabatnya, matanya yang indah menatap langit. Dan kini ia
berkisah. Lagi.
* * *
Ia adalah seseorang yang sangat
mempesona. Sejak kali pertama aku melihatnya, hatiku hanya dapat
berbisik, mengagumi sosoknya. Tahukah kalian berapa banyak wanita
lainnya yang juga menyukainya? Tahukah?
Aku selalu menatapnya dari
kejauhan. Menatapnya dari balik hujan, dari balik jendela tempatku
bekerja, mendengar suaranya samar dari balik ruangan, dan sungguh itu
pun sudah membuatku bahagia.
Aku terlalu berbeda darinya. Ia
adalah seorang musisi, yang bergaul luas dengan teman-temannya dari
malam hari. Dan aku, aku adalah seorang gadis kutu buku yang
ditenggelamkan oleh berkas pekerjaan, perjalanan kantor dan terlalu
disiplin dalam bersikap. Aku adalah seorang gadis pendiam, yang menurut
teman-temanku terlalu banyak berpikir, namun juga baik hati. Begitu kata
mereka. Terlalu baik hati. Seorang gadis yang tidak cocok untuk zaman
ini, karena zaman sudah sangat kejam. Di kantor kecil kami sekalipun.
Aku terlalu jujur. Terlalu polos. Mudah dimanfaatkan. Namun, mereka pada
akhirnya bilang, bahwa aku cocoknya menjadi seorang teman sejati.
Kalian tahu apa artinya teman sejati?
Suatu hari, untuk pertama
kalinya, laki-laki itu mengirimku sebuah pesan singkat, mengajakku
menonton sebuah konser tak jauh dari tempatku bekerja. Aku merasa sangat
senang. Dadaku berdebar-debar. Sejenak aku berlari ke kamar kecil. Lama
mematut-matut diriku sendiri di depan cermin. Menyelidik penampilanku,
yang menurut teman-temanku terlalu polos, karena mereka sendiri
sehari-harinya tampil ber-
make-up lengkap. Aku mengoleskan
lip glos-ku,
hanya itu yang kupunya selain bedakku. Dadaku masih terasa
berdebar-debar, dan aku menarik nafas dalam-dalam sampai berkali-kali.
Ribuan
orang ternyata telah memadati lapangan itu. Gemerlap panggung kala itu
telah mengalahkan kedip rasi bintang di langit. Alunan musik yang sangat
memekakan telinga dan lengkingan suara sang vokalis membuat jantungku
berdegup kencang. Aku pusing. Orang-orang berjingkrak menggetarkan bumi.
Sejenak aku hanya mematung, merasakan, tempatku berpijak
bergetar-getar.
“Ini.. pertama kalinya aku menonton konser musik.”
“Pertama
kali ya.. Apa??” Laki-laki itu berhenti menghentakkan kakinya,
mengacuhkan lagu yang sedang asik mengalun dan menatapku lekat-lekat.
Keheranan. “Memangnya berapa umurmu?”
“Dua puluh empat..” segera kusadari bahwa aku sebenarnya tak perlu menjawab pertanyaannya.
Oh,
oh.. karena kini pasti tahulah ia bahwa aku adalah seorang kutu buku
sejati. Ia tertawa terbahak-bahak, “kamu berbeda ya dari teman-temanmu!”
Dengan
cepat dan pelan ia menyentuh kepalaku dengan telapak tangannya,
mengusap dan segera melepaskannya. Waktu serasa berhenti berputar. Aku
tertegun. Tersipu.
Malam itu sungguh indah. Kami meninggalkan
konser pukul sepuluh malam, padahal konsernya baru saja dimulai, dan
baru band-band pembuka yang main. Aku tak boleh pulang terlalu larut.
Ayahku akan marah. Sekilas kudengar ia mendengus ketika meninggalkan
lapangan itu, masih terlalu pagi untuk meninggalkan konser malam, tapi
ia tak ingin membiarkanku pulang sendiri.
Menyesalkah ia
mengajakku? Menyesalkah? tanyaku dalam hati, sambil mengintip bulan di
balik tubuh laki-laki itu. Siluet sosok tubuhnya tercipta sangat indah,
aku terbius dan betapa aku merasa ingin direngkuhnya.
Kami
berjalan menapaki trotoar sepanjang jalan itu. Malam itu aku memutuskan
untuk menjadi diriku sendiri di hadapannya. Untuk menjadi seorang gadis
kutu buku yang pendiam, kaku dan yang terlalu banyak berpikir. Untuk
menjadi seseorang yang memang itu adalah diriku sendiri. Tidak ada
kepura-puraan, apa adanya. Aku mencintainya, dan aku tak ingin
membohongi dirinya. Aku akan jujur pada diriku dan padanya.
Dan
tahukah kalian? ternyata itu adalah malam terindah yang bisa kuingat
dalam sadarku. Karena setelah malam itu, aku hidup dalam sebuah dunia
mimpi dalam kenyataan, saat ia bilang bahwa ia pun juga mencintaiku.
Bahwa ia pun juga diam-diam memperhatikan aku dari balik hujan, dari
balik jendela kerjanya, dan mendengar suara lirihku dari balik tembok
ruangan.
* * *
Sahabat-sahabat sang gadis terhanyut dalam
cerita sang gadis. Mereka iri. Mereka juga sungguh ingin merasakan apa
yang dirasakan gadis itu. O, pastilah sangat indah apa yang dinamakan
cinta itu.
Sang gadis menyibakkan rambutnya sambil tersenyum, “sudah ah. Kisahku hanya akan membuat kalian iri saja. Aku tak ingin pamer!”
“Oh! Ayolah. Kumohon, selesaikan ceritamu. Kami ingin mendengarnya, lagi dan lagi.”
Sang gadis menghela nafas. Sejenak ia menoleh ke arah utara. Angin sore membawa kabar, lembayung senja akan segera tiba.
* * *
Keluargaku
begitu khawatir mengetahui aku berhubungan dengannya. Ayahku cemas.
Takut-takut anak gadis semata wayangnya yang lugu dimanfaatkan oleh
laki-laki musisi dari kehidupan malam itu.
Jujur, kata-kata ayah pernah membuatku sedikit limbung. Tapi laki-laki itu berhasil meyakinkanku.
Tak
lama kemudian, ia memutuskan pindah ke Bandung, kota bunga yang
terkenal dengan hawanya yang sejuk itu. Ia dan teman-temannya ingin
serius merintis karir musiknya. Dengan perasaan yang berat aku melepas
sosoknya, walau jiwanya masih erat-erat kudekap. Aku sangat mencintainya
dan aku ingin ia dapat meraih mimpinya.
Dan, tahukah kalian? betapa aku seringkali merasa ketakutan?
Ia
adalah seorang laki-laki yang mempesona, yang bertambah pijarnya bila
sedang berada di atas panggung. Mengalahkan kelip bintang di langit
malam. Seperti itulah perumpaannya, maka tak heran bila banyak
gadis-gadis cantik lainnya ingin dekat-dekat dengannya. Dan itu
menyiksaku, sungguh-sungguh menyiksaku. Tapi lalu ia berkata, bahwa aku
adalah satu-satunya untuknya. Satu-satunya dan yang terakhir. Yang
terakhir dalam hidupnya. Kata-kata yang memabukkan. Yang terlalu indah
diucapkan seseorang yang mempesona pada seorang gadis sepertiku, gadis
kutu buku yang pendiam. Terlalu indah untuk dapat begitu saja aku
percaya.
* * *
Mata sang gadis menerawang meraup langit.
Para sahabatnya diam terpana, menahan nafas. Sungguh pastilah sangat
hebat kekuatan cinta itu. Yang telah membuat seorang gadis kutu buku
yang pendiam sepertinya menjadi terpancar keindahan dalam hatinya.
Sungguh, bukan semburat senjalah yang mereka nantikan setiap sore, tapi
pancaran cinta dari dalam hati sang gadislah yang selalu ingin mereka
lihat. Sebuah kecantikan yang agung.
Sang gadis tersenyum, mengenang, dan mulai bercerita lagi.
* * *
Dan
tahukah kalian? bahwa ia adalah seorang bintang adalah memang benar
adanya. Grup Bandnya mulai dikenal luas. Aku sangat bahagia. Dan yang
lebih membahagiakanku adalah, ia dan teman-temannya akan pindah lagi ke
Jakarta. Bahwa aku kini bisa menggenggam tangannya lagi, merebahkan
kepalaku lagi di pundaknya, merengkuh jiwa dan raganya. Ah, andai saja
kalian mengetahui bagaimana rasanya..
* * *
Mata sang gadis
lalu meredup. Ia memalingkan wajahnya, diacuhkannya langit yang mulai
memerah. Sesaat lagi semburat senja akan terbentang, tapi kisah
kenangannya menghanyutkannya, dan menghanyutkan para sahabatnya.
“Sesungguhnya kisahku adalah kisah yang menyedihkan..” gadis itu menatap sahabat-sahabatnya. Suaranya lirih.
* * *
Di
hari ulang tahunnya, tepat pukul dua belas malam, ketika aku diam-diam
membawakan kado kecil untuknya ke apartemennya, kudapati seorang gadis
lainnya, juga membawakan kado untuknya, menunggunya dari sore. Kupikir
ia hanya salah satu dari sekian banyak penggemarnya, sampai aku
mendengar tutur kisahnya, barulah aku menyadari bahwa aku selama ini
salah. Bahwa selama ini aku benar-benar telah bermimpi.
Gadis itu
mengaku sebagai kekasihnya kekasihku. Sungguh suatu kabar yang terlalu
buruk untuk dapat kupercaya begitu saja. Gadis itu lalu memperlihatkan
foto-foto kebersamaan mereka yang terekam dalam telepon genggamnya.
Hatiku hancur.
Kekasihku tak lama kemudian tiba di tempat itu, ia
baru saja menyelesaikan tur-nya. Mendapatiku dalam keadaan marah.
Kulempar kado kecilku, kudorong ia keras-keras, dan berteriak, bahwa aku
membencinya. Aku benci!
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku
berbohong padanya. Jelas-jelas berbohong. Karena betapa pun malam itu
sangat menyakitkan, aku masih mencintainya, tetap mencintainya. Lalu aku
berlari. Dan malam itulah, adalah malam terakhir aku melihatnya.
* * *
Air
mata tergenang di pelupuk mata sang gadis. Para sahabatnya iba
melihatnya dan membelai-belainya penuh kasih. “Jangan menangis lagi,
sahabatku..” bisik Mimosa, sahabatnya. Wajahnya ikut sendu, seolah
merasakan sakit yang diderita sang gadis.
Angin sore berhembus membawa kabar lagi.
“Apakah semburat lembayung senja yang kita nantikan sejak tadi telah tiba?” tanya sang gadis.
“Bukan semburat lembayung senja. Seseorang telah datang ke rumahmu”
“Bukankah itu kekasihmu?” Para sahabat menyelidik, mengintip dari atas bukit, menatap ke rumah sang gadis di bawah lembah.
“Ya,
dia adalah laki-laki itu. Dia adalah kekasihku!” Sang gadis berseru dan
tersenyum. Ia beranjak, berlari menuruni bukit, menghampiri kekasihnya
dengan penuh suka cita, merengkuhnya, lalu memeluknya, seolah tak ingin
pernah melepaskannya lagi.
“Maafkan aku, Gadis. Maafkan aku.
Telah menyakitimu,” kekasih sang gadis menunduk, menutup wajahnya dalam
penyesalan dan mulai menangis pelan. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik
jaketnya, sepasang stik drum Zildjian yang tak pernah sempat ia pakai
-hadiah terakhir dari sang gadis- dan meletakannya di atas tanah.
* * *
Sahabat-sahabat
sang gadis dari atas bukit memperhatikan. Menyaksikannya, ada yang
terharu menangis, dan ada pula yang diam mematung menahan nafas. Sungguh
cinta yang mereka saksikan begitu mengharu biru. Tanah rumah sang gadis
semestinya sudah lama kering, namun air mata sang kekasih selalu
membasahinya setiap sore.
“Kisah sang gadis kutu buku yang
pendiam itu bukanlah kisah cinta yang menyedihkan seperti yang selama
ini sang gadis pikirkan..” ucap salah satu sahabat sang gadis, sang
ilalang.
“Ya. Kisahnya belumlah berakhir. Perlukah kita sampaikan
padanya, tentang berita yang dibawa angin sore beberapa waktu yang
lalu, bahwa di kantung kekasihnya pada malam terakhir mereka bertemu
itu, ada sebuah cincin putih untuk sang gadis? “ tanya sang rumput pada
ilalang yang bijaksana, “kekasihnya itu ingin melamarnya.”
“Ya,
dan bahwa cinta sang kekasihnya itu sungguh nyata. Dan bahwa selama ini
sang gadis sesungguhnya tidaklah bermimpi sedang dicintai,” si bunga
kecil
Mimosa pudica menambahkan.
“Ya, dan bahwa sungguh
jahat gadis yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya kekasih gadis pendiam
kita ini!” Rumput menimpali kesal.
Angin sore datang berhembus.
Seperti biasa, membawa semburat senja berwarna keemasan terbentang di
langit. Matahari kembali perlahan menuju peraduannya, dan memancarkan
perpaduan warna kemerahan yang sangat -sangat- indah. Kali ini, sang
angin sore membawa serta sebuah kabar, ia lalu menyampaikannya pada
sahabat-sahabat sang gadis. Mendengarnya, rumput-rumput, ilalang dan
bunga-bunga putri malu di areal pemakaman itu bertautan dan bergesekan,
entah sedih, entah menangis, entah bahagia.
“Sepertinya kita tak
perlu mengatakan apapun pada sang gadis. Biarlah ia mengetahuinya dengan
sendirinya. Karena cinta, kekasihnya menjadi sangat rapuh setelah
ditinggalkan sang gadis. Tak lama lagi ia akan dijemput kemari,” sang
ilalang berucap lirih, “tak lama lagi, kita bisa mendengarkan kisah
cinta yang seutuhnya dari sang gadis dan kekasihnya, di bukit ini,
sambil menunggu lembayung senja.”
* END *